Loyang di Tanah Goyang

Catatan Kuratorial


Waktu tanah bergoyang, orang-orang bukan saja kehilangan keseimbangan. Tapi akses atas pangan yang selama ini kadung berada di luar pagar rumah: grosir sembako, gerai makanan, sampai coffeeshop. Bukan lagi sepelemparan baru, seperti juga tak jauh api dari panggang, seperti kali pertama ketika “para pelacak” Belanda datang ke daerah teluk cendrawasih ini. Konon, orang-orang Papua di pantai tidak perlu bekerja. Mereka mempunyak sagu dan ikan yang berlimpah. Seorang antropolog di antara “para pelacak” itu bilang, “orang-orang liar yang kasar dari tanah-tanah datar penuh rawa, di mana sagu dapat diambil seenaknya, dan laut dan sungai memberikan berbagai makanan pendamping”. Ini bikin Biljmer keheranan lantaran kalaupun mereka ingin sedikit bercocok tanam, mereka akan mampu memperoleh hasil yang baik. Sementara di pegunungannya, orang-orang Papua oleh “para pelacak” ini disebut hidup dalam keadaan alami. Hanya ada kesederhanaan firdaus; orang-orang berjalan hampir telanjang di bawah langit Tuhan dan makan buah-buah yang terpelihara di padang-padang, yang dipendam di abu api yang membara, terutama kalau menyangkut daging, dimasak di antara batu-batu dalam satu lubang.[1]

Gempa Nabire tahun 2004 dan 2006 menyadarkan banyak orang kalau ‘kesederhanaan firdaus’ yang ditemukan Biljmer kala itu sudah tidak sama lagi. Misalnya, ketika gempa banyak orang yang menggantungkan periuk dalam bantuan pangan pemerintah, juga bantuan pangan militer. Meski begitu, satu dua orang di antara mereka merelakan isi kebun untuk jadi bahan makan pada satu dapur umum yang biasanya berisi sekelompok orang dalam gang kompleks mereka.

Riset yang kami lakukan setahun belakangan setidaknya menggambarkan fenomena ini. Pada mulanya orang-orang akan bertahan dalam isi kulkas mereka, meski tak lama lantaran listrik padam. Lalu pelan-pelan mulai melihat apa saja yang tersisa di halaman rumah mereka untuk dimakan. Kemudian bergabung pada satu dapur umum yang berisi makanan-makanan instan. Biasanya juga ini direlakan oleh pemilik-pemilik grosir sembako, atau dibeli oleh seseorang kemudian dihibahkan. Polanya bisa saja berbeda ketika rumah itu tak punya kulkas atau rata dengan tanah. 


[1] P.J. Drooglever, Tindakan Pilihan Bebas!, Penerbit Kanisius: Yogyakarta, 2010, hal 37-38.