{"id":56,"date":"2025-12-04T18:37:41","date_gmt":"2025-12-04T18:37:41","guid":{"rendered":"https:\/\/stereotip.id\/?page_id=56"},"modified":"2025-12-04T18:37:42","modified_gmt":"2025-12-04T18:37:42","slug":"loyang-di-tanah-goyang","status":"publish","type":"page","link":"https:\/\/stereotip.id\/index.php\/loyang-di-tanah-goyang\/","title":{"rendered":"Loyang di Tanah Goyang"},"content":{"rendered":"\n<div class=\"wp-block-group alignfull has-background is-layout-flow wp-block-group-is-layout-flow\" style=\"background-color:#f2f0e9\">\n<div style=\"height:70px\" aria-hidden=\"true\" class=\"wp-block-spacer\"><\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-columns alignwide are-vertically-aligned-center is-layout-flex wp-container-core-columns-layout-1 wp-block-columns-is-layout-flex\">\n<div class=\"wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\" style=\"flex-basis:50%\">\n<p class=\"has-text-color\" style=\"color:#000000;font-size:30px;line-height:1.1\">Catatan Kuratorial<\/p>\n<\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\" style=\"flex-basis:50%\">\n<hr class=\"wp-block-separator has-text-color has-css-opacity has-background is-style-wide\" style=\"background-color:#000000;color:#000000\"\/>\n<\/div>\n<\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-columns alignwide is-layout-flex wp-container-core-columns-layout-2 wp-block-columns-is-layout-flex\">\n<div class=\"wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\">\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"819\" height=\"1024\" src=\"http:\/\/stereotip.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/Loyang-819x1024.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-57\" srcset=\"https:\/\/stereotip.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/Loyang-819x1024.png 819w, https:\/\/stereotip.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/Loyang-240x300.png 240w, https:\/\/stereotip.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/Loyang-768x960.png 768w, https:\/\/stereotip.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/Loyang.png 1080w\" sizes=\"(max-width: 819px) 100vw, 819px\" \/><\/figure>\n<\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\">\n<p>Waktu tanah bergoyang, orang-orang bukan saja kehilangan keseimbangan. Tapi akses atas pangan yang selama ini kadung berada di luar pagar rumah: grosir sembako, gerai makanan, sampai&nbsp;<em>coffeeshop.<\/em>&nbsp;Bukan lagi sepelemparan baru, seperti juga tak jauh api dari panggang, seperti kali pertama ketika \u201cpara pelacak\u201d Belanda datang ke daerah teluk cendrawasih ini. Konon, orang-orang Papua di pantai tidak perlu bekerja. Mereka mempunyak sagu dan ikan yang berlimpah. Seorang antropolog di antara \u201cpara pelacak\u201d itu bilang, \u201corang-orang liar yang kasar dari tanah-tanah datar penuh rawa, di mana sagu dapat diambil seenaknya, dan laut dan sungai memberikan berbagai makanan pendamping\u201d. Ini bikin Biljmer keheranan lantaran kalaupun mereka ingin sedikit bercocok tanam, mereka akan mampu memperoleh hasil yang baik. Sementara di pegunungannya, orang-orang Papua oleh \u201cpara pelacak\u201d ini disebut hidup dalam keadaan alami. Hanya ada kesederhanaan firdaus; orang-orang berjalan hampir telanjang di bawah langit Tuhan dan makan buah-buah yang terpelihara di padang-padang, yang dipendam di abu api yang membara, terutama kalau menyangkut daging, dimasak di antara batu-batu dalam satu lubang.<a href=\"applewebdata:\/\/EB319A23-0FC1-456B-97A7-9D94E76612CC#_ftn1\"><sup>[1]<\/sup><\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Gempa Nabire tahun 2004 dan 2006 menyadarkan banyak orang kalau \u2018kesederhanaan firdaus\u2019 yang ditemukan Biljmer kala itu sudah tidak sama lagi. Misalnya, ketika gempa banyak orang yang menggantungkan periuk dalam bantuan pangan pemerintah, juga bantuan pangan militer. Meski begitu, satu dua orang di antara mereka merelakan isi kebun untuk jadi bahan makan pada satu dapur umum yang biasanya berisi sekelompok orang dalam gang kompleks mereka.<\/p>\n\n\n\n<p>Riset yang kami lakukan setahun belakangan setidaknya menggambarkan fenomena ini. Pada mulanya orang-orang akan bertahan dalam isi kulkas mereka, meski tak lama lantaran listrik padam. Lalu pelan-pelan mulai melihat apa saja yang tersisa di halaman rumah mereka untuk dimakan. Kemudian bergabung pada satu dapur umum yang berisi makanan-makanan instan. Biasanya juga ini direlakan oleh pemilik-pemilik grosir sembako, atau dibeli oleh seseorang kemudian dihibahkan. Polanya bisa saja berbeda ketika rumah itu tak punya kulkas atau rata dengan tanah.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<p><a href=\"applewebdata:\/\/EB319A23-0FC1-456B-97A7-9D94E76612CC#_ftnref1\"><sup>[1]<\/sup><\/a>&nbsp;P.J. Drooglever,&nbsp;<em>Tindakan Pilihan Bebas!,&nbsp;<\/em>Penerbit Kanisius: Yogyakarta, 2010, hal 37-38.<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n\n\n\n<div style=\"height:40px\" aria-hidden=\"true\" class=\"wp-block-spacer\"><\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Catatan Kuratorial Waktu tanah bergoyang, orang-orang bukan saja kehilangan keseimbangan. Tapi akses atas pangan yang selama ini kadung berada di luar pagar rumah: grosir sembako, gerai makanan, sampai&nbsp;coffeeshop.&nbsp;Bukan lagi sepelemparan baru, seperti juga tak jauh api dari panggang, seperti kali pertama ketika \u201cpara pelacak\u201d Belanda datang ke daerah teluk cendrawasih ini. Konon, orang-orang Papua di [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"parent":0,"menu_order":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","template":"","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"footnotes":""},"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/stereotip.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/56"}],"collection":[{"href":"https:\/\/stereotip.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/pages"}],"about":[{"href":"https:\/\/stereotip.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/page"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/stereotip.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/stereotip.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=56"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/stereotip.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/56\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":58,"href":"https:\/\/stereotip.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/56\/revisions\/58"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/stereotip.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=56"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}